Selasa, 06 Oktober 2009

Ditemukan sebuah bintang baru, bintang ini adalah sebuah batu permata terbesar di alam semesta : diamater 4.000 km, dikenal dengan nama “BPM 37093”.

Bintang ini merupakan batu permata terbesar di alam semesta yang diketahui saat ini : diameter 4.000 km, dan beratnya setara dengan 10 dipangkatkan 34 karat.

“BPM 37093” terletak di Centaurus, jaraknya dari bumi sekitar 50 tahun cahaya, ia adalah sebuah bintang cebol putih, hasil dari bintang tetap kecil yang menuju ke masa akhir evolusi, dan intinya adalah karbonkristal (batu permata) yang berdensitas eksra tinggi, bagian luar diselimuti dengan lapisan hidrogen dan helium.

Sehari menjelang Hari Valentine pada 2 tahun silam, ilmuwan asal Amerika Serikat Micter Kaerf, Monger Marry dari Universitas Combridge, Inggris, dan ilmuwan asal Brasil yakni Kannan mengumumkan bahwa mereka telah menemukan bintang “BPM 37093”, ketika itu Micter dengan nada canda mengatakan : “Meskipun harta kekayaan Sang Raja Komputer Bill Gates plus harta Donald Trump digabung juga tidak akan sanggup membelinya.”

Selama 40 tahun ini, astronom selalu beranggapan bahwa inti bintang cebol putih akan mengkristalisasi seiring dengan turunnya suhu, namun bukti yang akurat semuanya sulit diamati.

Micter menghitung intinya memang sudah mengkristal melalui getaran pulsasi “BPM 37093”-nya bintang cebol putih. 5 miliar tahun kemudian, matahari kita juga akan berubah menjadi sebuah bintang cebol putih, dan ditambah lagi dengan beberapa masa, maka yang tampak di pusat tata surya kita saat ini hanya berupa sebuah batu permata raksasa.

Kamis, 24 September 2009

Ledakan Sinar Gamma

Sinar Gamma adalah ledakan dengan kekuatan terdahsyat yang sudah diketahui di alam semesta saat ini, dan pengetahuan yang dipahami ilmuwan atas hal ini masih sangat terbatas.
Ilmuwan mendapati, bahwa sinar gamma (Gamma Ray Burst, GRB) yangberasal dari galaksi luar yang jauh, adalah energi yang dilepaskankembali setelah hancurnya 2 bintang tetap, energi pancarannya sangatkuat dan tak dapat diduga, kurang lebih seribu kali lipatnya matahari.

Sebelum perubahan besar ini terjadi, manusia sama sekali tidak dapatmengamati perubahan sesudahnya, sehingga dengan demikian juga tidaktahu bagaimana cara mengantisipasinya.
Jika terjadi, maka meski berada di tempat sejauh seribu tahun cahaya, dan meski pada malam yang biasanya cerah di sebuah tempat yang jauhnya tidak dapat Anda saksikan, ia juga akan terang secara tiba-tiba seperti matahari, kemudian melepaskan energi yang maha besar, dan menyinari bumi dengan pancarannya.
Meskipun lapisan atmosfer dapat melindungi kita terhindar dari serangansinar Gamma dan sinar -X, namun pancaran-pancaran berenergi tinggi inidapat membuat lapisan atmosfer menjadi panas dan menghasilkannitrogenoksida, yang dapat secara serius merusak ozonosfer (lapisanozon).
Yang lebih parah adalah ini dapat secara langsung mengacaukan prosesfotosintesis plankton di samudera (mereka dapat menyuplai oksigen bagiatmosfer), merusak ekologi sekaligus juga menghancurkan rantai makanan.
Jarak sinar gamma yang ditemukan saat ini sangat jauh dari kita, meskipengetahuan yang diketahui ilmuwan atas hal ini sangat terbatas, namundapat dibayangkan akibat yang mengerikan seandainya secara tiba-tiba iamenyinari bumi kita.

Bencana Yang Mungkin Ada Di Masa Depan

Selain banjir, senjata nuklir, polusi lingkungan, memburuknya iklim,dan lain sebagainya, menurut laporan majalah Discovery, AS, parailmuwan juga memperhitungkan puluhan jenis bencana alam atau ulahmanusia yang bisa mengakibatkan manusia mendekati kepunahan.
Jaman sekarang, setiap saat orang-orang menyebarkan informasi tentangkepunahan spesies, sehingga kita mulai menyadari bahwa ini bukan sebuahfenomena perputaran alam yang baik.

Para ilmuwan telah memperkirakan, bahwa rasio kepunahan spesiesorganisme sekarang adalah 1.000 kali lipatnya zaman fosil, menurutstatistik bahwa di atas bumi secara aktual terdapat 99% spesies beradadi ujung kepunahan.
Dan pembunuh-pembunuh yang menghancurkan spesies ini, sebagian besar disebabkan aktivitas peradaban manusia saat ini. Aktivitas-aktivitas ini menyebabkan berbagai jenis makhluk hidup di bumi, termasuk manusia sendiri secara perlahan-lahan menuju ke dalam kondisi yang kritis, ada beberapa kondisi yang mungkin dapat dialami dalam gerakan putaran alam.
Mungkin Anda akan menganggap bahwa peringatan di atas hanya imajinasisastrawan, namun di bawah pengamatan dan penyelidikan ilmuwan ditemukan bahwa dalam sejarah ratusan juta tahun, di atas bumi berkali-kalimenyisakan bekas-bekas dihancurkan.

Wow, Ditemukan Planet Yang Kondisinya Mirip Sekali Dengan Bumi

Planet pertama yang bisa dihuni dalam ukuran dan kondisi yang sama dengan Bumi, telah ditemukan dalam satu sistem tata surya luar, sehingga kembali memunculkan kemungkinan adanya kehidupan di planet-planet lain, ungkap para ilmuwan.
Planet yang belum diberi nama itu besarnya satu setengah kali Bumi dan lima kali lebih pejal, ungkap tim astronom Eropa di Observatorium Selatan Eropa di Garching, Jerman.
“Kami sudah menaksir bahwa suhu rata-rata super-Bumi ini antara 0 hingga 40 derajat Celsius, karena itu air dalam keadaan cair,” kata Stephane Udry dari Observatorium Jenewa.
“Model-model memberi perkiraan bahwa planet itu kemungkinan berbatu-batu seperti Bumi kita atau ditutupi samudera.” katanya kepada DPA.
Planet itu terletak di sekitar bintang yang disebut Gliese 581, sekitar 20,5 tahun cahaya dari sistem tata surya Bumi dan termasuk 100 bintang terdekat dari Matahari.
Walau planet itu lebih dekat kepada bintangnya dibandingkan dengan jarak Bumi ke Matahari, kedua planet sama mempunyai kondisi serupa karena Gliese 581, yang disebut “kurcaci merah”, ukurannya lebih kecil dan lebih dingin.
Satu tahun planet tersebut sama dengan 13 hari di Bumi.
“Kurcaci-kurcaci merah, cocok untuk mencari planet-panet sejenis karena mereka memancarkan cahaya lebih sedikit, dan mereka juga punya jarak yang lebih dekat ke zona yang bisa dihuni, dibanding matahari kita,” kata Xavier Bonfils dari Universitas Lisabon.
Lebih dari 200 “eksoplanets” – planet di luar tata surya Matahari, ditemukan dalam 12 tahun terakhir. Kebanyakan adalah gas padat yang sangat besar mirip Jupiter.
Xavier Delfosse dari Universitas Grenoble di Prancis mengatakan planet temuan baru itu dapat dihuni dan pasti menjadi sasaran bagi misi luar angkasa mencari mahluk luar angkasa di masa depan.
“Air dalam bentuk cair sangat penting bagi kehidupan,” katanya. ”Bagai peta harta karun, orang akan menandai planet ini dengan tanda X.”

Sabtu, 12 September 2009

Meganthropus

Meganthropus is a name commonly given to several large jaw and skull fragments from Sangiran, Central Java. The original scientific name was Meganthropus palaeojavanicus, and while it is commonly considered invalid today, the genus name has survived as something of an informal nickname for the fossils. As of 2005, the taxonomy and phylogeny for the specimens are still uncertain, although most paleoanthropologists considering them related to Homo erectus in some way. However, the names Homo palaeojavanicus and even Australopithecus palaeojavanicus are sometimes used as well, indicating the classification uncertainty. Of particular interest is that the finds were sometimes regarded as those of giants, although that is unsubstantiated.

After the discovery of a robust skull in Swartkrans in 1948 (SK48), the name Meganthropus africanus was briefly applied. However, that specimen is now formally known as Paranthropus robustus and the earlier name is a junior synonym.

Some of these finds were accompanied by evidence of tool use similar to that of Homo erectus. This is the reason it is often linked with that species.

Senin, 07 September 2009

300 Spartans: A Brief History of the Battle of Thermopylae

Spartan King Leonidas

Spartan warriors were elite fighting men. They are still praised today for their discipline, physical training, and strategic skills. Yet, out of all these elite Spatan warriors rose someone who even they considered to be extraordinarily brave, and heroic. That person was Spartan King Leonidas.

His background: he was one of the sons of king Anaxandridas 11 of Spartan and a descendant of Hercules. He succeeded his half- brother, Cleomenes 1, and married Cleomenes' daughter, Gorge.

In 480 B.C, during the Persian-Greco Wars, Leonidas lead 300 Spartans and thousands of allies in a mission designed to slow down the Persian military advance toward the heart of Greece. It was considered to be a suicide mission. When the battle seemed hopeless King Leonidas, dismissed their allies, leaving only him and 300 other Spartans to hold off thousands of Persian warriors, they were literally outnumbered one thousand to one.

Yet, they manage to hold the Persians at bay for days. By all historical accounts, the 300 Spartans and King Leonidas fought with their last breath, but was eventually overpowered and killed.

Facts about the Battle of Thermopylae

The Battle of Thermopylae took place September 17-19, 480 BC

The 300 hundred Spartans who fought along side Leonidas were an all-sire unit, which means that they all had sons who would carry on their bloodline if they were to die. They were also comprised of Leonidas own fighting unit. Some historians have reported that King Leonidas wanted to go to his death. Why? An oracle told him that Spartan only could be saved by the death of its kings and one from the lineage of Hercules. He fit the bill on both counts.

Origins of the Drum Kit


Drum kits, a grouping of various toned drums, originated in marching bands and parade bands in New Orleans. It was found that one drummer could play more than one drum simultaneously. This is known as double drumming. Cymbals and Tom Toms, which were invented in China, were added to drum kits. Percussion additives such as cowbells, wooden blocks, and chimes were incorporated as well. By the 1930's the standard drum kit had taken shape. The Kit consisted of a bass drum and foot pedal, snare, tom toms, hi-hat cymbal, and large hanging cymbals.

In the 1960's rock drummers began the expansion of drum kits that are the norm today. More toms and cymbals, as well as the addition of another bass drum to increase speed were added. Electronic drums were also developed to create sounds that traditional drums were unable to produce. These brought about the synthesized drum sounds used in many modern styles of music.